• SMKN 64 JAKARTA
  • SUKSES ( Smart, Unggul, Kreatif, Semangat, Empati, dan Sopan)

Pojok Kisah, Karya Defanza Ghifari

Dwi Safrianti; Sendiri di tengah Pandemi

 

Dwi Safrianti akrab disapa Dwi, ialah seorang perempuan berusia 45 tahun. Ia berprofesi sebagai wanita karier, hingga kini ia masih melajang. Selama ini, ia tinggal sendirian dikontrakannya, yang berada di daerah Tanjung Barat Jakarta Selatan. Dwi harus membayar Rp1.500.000,00/ bulan untuk kontrakannya. Kontrakan itu memiliki  luas 400 m2, terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi dengan atap plafon. Meskipun sedang dalam masa karantina, Dwi tetap membayar secara penuh kontrakannya. Semua biaya, mulai dari kontrakan hingga obat-obatan diperoleh dari sumbangan teman dan keluarganya. Dwi tidak pernah menyangka, ia akan terjangkit virus Covid-19.

Virus Covid-19 menggemparkan seluruh dunia, virus ini sangat ganas, karena menyebabkan korban jiwa lebih dari ribuan orang di dunia. Virus Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan China, kemudian virus ini menyebar ke seluruh dunia. Pada Sabtu 2 Maret, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Kasus pertama Covid-19 ditemukan di daerah Depok, setelah wanita 31 tahun yang tidak di sebutkan namanya itu, bertemu dengan salah satu warga negara Jepang pada 14 Februari. Kemudian, baru diumumkan kasus-kasus lain di berbagai wilayah di Indonesia.

Salah satu korban dari ganasnya virus ini ialah Dwi Safrianti. Dwi pun menceritakan awal mula ia bisa terjangkit virus tersebut. Ia telah didiagnosa mengidap penyakit SARS-CoV-2 atau Covid-19 selama dua bulan. Terhitung sejak bulan April hingga Mei tahun ini. Wanita bertubuh gempal itu, sewaktu diwawancarai terlihat memakai baju biru polos dilapisi jaket hitam tebal, serta membawa tas jinjing di bahunya. Ia berjalan santai memasuki rumah saya. Sekilas, Dwi terlihat dalam kondisi yang sangat baik untuk diwawancara. Ia pun berkisah mengenai perjuangannya melawan virus Covid-19.

Ia menyatakan pada awalnya  merasakan sakit batuk tak henti-henti, tenggorokannya terasa sakit, sesak napas dan panas dingin hingga membuat sekujur badannya basah kuyup diguyur keringatnya sendiri. Ia pun harus menggati pakaiannya berkali-kali. Dwi mengalami sakit yang makin parah di seluruh bagian kepalanya hingga diare. Sebelum, Ia sakit,  Dwi bepergian dari Jakarta ke Surabaya karena urusan pekerjaanya. Ia bertugas memeriksa sebuah pabrik kacang yang ada di Surabaya pada pertengahan bulan Februari.

Dikarenakan sakit yang ia rasakan tak kunjung membaik sekitar dua sampai tiga hari, Dwi kemudian berkonsultasi kedokter melalui sebuah aplikasi “Halo Dok”. Selepas mendengarkan keluhan Dwi, Dokter pun menyarankan agar Dwi diperiksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Dokter curiga, sakit yang dirasakan Dwi sama seperti gejala awal virus Covid-19. Malangnya, karena Dwi tinggal sendirian, ia pun harus berangkat ke puskesmas terdekat dengan mengendarai mobilnya. Dalam kondisi yang tidak sehat, ia berusaha memfokuskan diri mengendarai mobil sambil terus menahan rasa sakit pada bagian kepala, dada dan tenggorokannya. Ia pun diperiksa. Melalui hasil pemeriksaan, ternyata tensi Dwi sangat tinggi, yakni 199/110.

Dokter yang berada di puskesmas pun menyarankan agar Dwi di test covid di rumahnya saja, agar lebih aman. Dwi pun di periksa di rumahnya. Sewaktu dokter mendatangi kediaman Dwi di  daerah Tanjung Barat, dokter menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Pertama, Dwi diperiksa dengan rapid test, lalu Dwi pun di swab test. Hasil dari rapid dan swab itu akan diperiksa di laboratorium, dan dari situ, Dwi mendapatkan kepastian positif atau negative Covid-19. Tetapi, Dwi harus bersabar menunggu selama 14 hari, terhitung dari 16-30 April 2020. Dwi harus melaporkan diri ke puskesmas melalui telepon/whattApp setiap hari untuk mendapatkan penanganan jarak jauh.

Setelah menunggu, hasilnya pun keluar, Dwi dinyatakan positif dan diharuskan berdiam diri di rumahnya atau dikarantina mandiri sampai sembuh. Dokter pun terus memantau keseharian Dwi melalui aplikasi whatsapp. Semasa menjalani hari-harinya sebagai pasien covid, Dwi selalu berjemur setiap pagi di depan teras rumahnya. Untuk menghilangkan rasa bosan, biasanya Dwi selalu membuka youtube untuk menonton konten-konten yang menghibur.  Terkadang Dwi pun duduk di samping jendela sambil memandangi orang-orang yang sedang berjalan melewati rumahnya.

Ia juga rajin meminum obat herbal seharga Rp200.000,00/ 100ml, obat herbal itu berisikan sari buah yang didapat dari kakaknya. Tak lupa, Dwi juga meminum obat dari puskesmas untuk tiga hari. Obat itu ialah obat pereda rasa sakit. Selebihnya, Dwi membeli sendiri vitamin hingga antibiotik. Semua, ia lakukan supaya rasa sakit yang dideritanya berkurang. Ia pun berusaha melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian dan membersihkan rumahnya sendiri dalam kepayahannya. Ia tetap berusaha untuk membuat rumahnya terhindar dari kuman dan virus lainnya.

Selama masa karantina, Dwi selalu dikirimkan makanan oleh kakaknya. Kakak Dwi biasanya meletakan makanan di depan rumah. Ia selalu menyapa Dwi dari kejauhan. Satu bulan pertama, Dwi hanya bisa berbaring di kasurnya, karena tak tahan dengan rasa sakit pada bagian kepala serta sesak nafas.

“Selama satu bulan cuma berbaring karena sakit. Paling kekamar mandi sesekali mandi dan masak minum air panas. Sama makan dan cuci piring. Satu bulannya lagi, udah mendingan cuci baju beberes rumah, kadang-kadang suka sedih, biasanya orang sakit itu di jengukin, di temenin, apa-apa dibuatin, ini kagak bisa, waktu awal-awal dikarantina sih biasa aja, tapi lama-lama bosen,” ungkap Dwi sambil menepuk-nepuk pahanya.

Pernah suatu ketika, saat malam para narapidana melarikan diri dari lapas, Dwi merasakan sakit yang luar biasa. Malam itu, Dwi sengaja membuka pintu kamarnya dan tidak mengunci pintu rumahnya. Ini dilakukan bila suatu hal terjadi, orang-orang bisa menyelamatkannya dengan mudah.

 “Sampai pernah tuh, di suatu malam gitu yah, waktu pas lagi pengumuman yang napi-napi yang dilepas itu tuh, pas gue lagi parah-parahnya, jadi tenggorokan tuh sakit, idung gak bisa ngirup, makannya gak bisa nyium bau, nyium bau tuh sama sekali gak ada, namanya kita hidup sendiriankan, masaklah sop, pas pengen nyium lada, itu gak bisa ke cium, terus pas pengen tidur, itu pintu kamar sama rumah gak dikunci, sengaja, biar kata gua kenapa-kenapa, orang gampang masuk, dalem ati, kalau gue gak mati ama covid, matinya ama narapidana lagi,” tutur Dwi.

Selama masa karantina, pernah secara diam-diam Dwi keluar rumah untuk membeli keperluannya. Tindakan itu ia lakukan, karena sedang dalam keadaan terdesak. Dwi keluar rumah pada tengah malam untuk menghindari keramaian. Dikarenakan pada tengah malam, keadaan di sekitar rumahnya sepi dan jalanan pun lengang. Ketika hendak pergi ke suatu toserba, Dwi mengayuh sepedanya sambil memakai pakaian super tebal dan berlapis-lapis dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia pun menggunakan masker dan sarung tangan untuk pencegahan agar orang-orang yang ia temui tidak tertular Covid-19 yang bersarang di tubuhnya. Dwi menyadari, bahwa tindakan yang ia lakukan sangat berbahaya. Sebab, bisa saja tanpa sengaja, virus itu tersebar ke sekitar lingkungan yang ia lewati. Namun, Dwi sudah berusaha semaksimal mungkin menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sangat tebal.

Dwi bersyukur, tidak ada kasus covid lainnya di sekitar lingkungannya. Pihak RT/RW setempat pun, menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.  Di sana dilakukan penyediaan air dan sabun untuk cuci tangan di setiap warung-warung, membagikan masker dan juga memberikan sembako gratis kepada warga-warganya. Menurut Dwi, masyarakat setempat memberikan respon yang baik kepada Dwi, sewaktu ia terjangkit virus Covid-19. Beberapa tetangga Dwi bahkan selalu memberikan makanan dan buah-buahan, walaupun tidak setiap hari. Dwi merasa sangat terbantu, mereka semua membuat Dwi berjuang melawan virus, yang ia derita.

Sampai saat ini, Dwi masih belum mengetahui penyebab ia tertular virus covid. Dwi berspekulasi, kemungkinan ia tertular pada saat menyentuh benda yang biasa di sentuh orang lain seperti mesin ATM atau gagang pintu toko yang biasa orang tarik-dorong, sewaktu membuka pintu toko atau boleh jadi ketika memegang uang tanpa mencuci tangan lagi. Bisa juga ia tertular semasa melakukan perjalanan kerja ke Surabaya pada pertengahan bulan Februari. Yang jelas, kini Dwi telah berhasil berjuang melawan virus covid-19 yang ia derita.

Dwi mengungkapkan, bahwa ia tidak ingin orang lain menghadapi situasi yang sama seperti yang ia rasakan. Dwi tidak mau orang lain terjangkit virus covid-19 seperti dia. Sebab, ia tahu betul rasa pedihnya. Menjalani karantina selama dua bulan di rumah tanpa ditemani oleh siapa pun. Dwi menambahkan bahwa kita semua wajib mengikuti protocol kesehatan yang sudah pemerintah berikan. Selalu menggunakan masker saat hendak bepergian, membawa handsanitizer atau selalu mencuci tangan selepas menyentuh benda apa pun dan  jangan menyentuh bagian wajah atau berjabat tangan serta hindari keramaian. Itu semua mau tidak mau harus kita terapkan, agar terhindar dari virus covid-19.

 

Oleh: Defanza Ghifari Shiddiq

Sekolah: SMKN 64 Jakarta

10 Komentar

Semangat terus dalam berkarya, sukses selalu.

Keren banget, terus belajar lagi fanza .. semoga sukses dunia akhirat

keren bgtt narasi nya baguss sampe gatau harus ngomong apa lagi best bgt pokonya!!

Bagus????.semangat terus dalam berkarya ,semoga sukses

Mantap semagat ya

Bagus ???????? semangat teruus ya

Mantap narasi nya, semangat terus

Keren..semangat ya.. terus berkarya lebih baik lagi ya..

Narasi nya cukup mengesankan...Terus belajar dan belajar lagi...semangat terus dlm berkarya dan berprestasi...

WOW KEREN BGT

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Buku Kejuruan

  Simulasi Digital Semester 1 Download   Simulasi Digital Semester 2 Download   Animasi 2D Semester 1 Download   Animasi 2D Semester 2 Download   Pemograman

26/04/2021 12:52 - Oleh Administrator - Dilihat 88 kali
Buku Umum

  Matematika Kelas X Download   Matematika Kelas XI Download   Bahasa Indonesia Kelas X Download     Bahasa Indonesia Kelas XI Download   Bahasa Inggri

26/04/2021 11:46 - Oleh Administrator - Dilihat 65 kali
Tepian pejuang wanita

Wanita asa buana   Terlahir sebagai wanita jatmika nan anindya Memberikan sinar harsa bagi mereka Keberanian yang tak pernah hirap Seolah menjadi benteng untuk para wanita   L

21/04/2021 12:55 - Oleh Administrator - Dilihat 55 kali
Jejak Penjaga Zaman

Download

25/02/2021 11:00 - Oleh Administrator - Dilihat 21 kali
Habis Galau Terbitlah Gemilang

Download

02/02/2021 19:35 - Oleh Administrator - Dilihat 24 kali
Mutiara Yang Kau Genggam

Download

02/02/2021 11:00 - Oleh Administrator - Dilihat 22 kali
Jalan Panjang Meraih CIta

Download

02/01/2021 19:55 - Oleh Administrator - Dilihat 30 kali
Aku Ingin Sekolah, Kisah Anak Suku Sakai

Download

02/01/2021 15:10 - Oleh Administrator - Dilihat 32 kali
Pagi dan Kita Bertemu Lagi

  Oleh Ayu Rahayu Malam ini malam tahun baru, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku menepikan diri di pedesaan, yang memang jauh dengan hingar bingar. Tapi biasanya memang tak b

01/01/2021 07:00 - Oleh Administrator - Dilihat 21 kali
Pojok Kisah, Karya Yasmin Fathia

Kisah Pengemudi Truk di Ibukota   Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 sore. Pak Aris seorang supir truk menceritakan kehidupan keluarganya.  Pak Aris Setiadi kelahira

09/08/2020 16:00 - Oleh Administrator - Dilihat 199 kali